Background
orang tua saya, hidup serba berkecukupan. Dari kecil dilatih sama kedua orang
tua untuk berusaha lebih jika ingin
lebih. Ketika saya menginginkan sesuatu, orang tua selalu bilang ”tabung
dong! Enak betul ngga ngapa-ngapain dibeliin barang bagus!”. Awalnya saya kesel
dan menganggap orang tua ngga sayang lagi, sampai saya ingat bertahun-tahun
kedepan. Sampai akhirnya saya duduk di kursi SMA, dan mulai sadar bahwa apa yang
diucapkan orang tua gua ternyata maknanya dalam.
Waktu
itu saya dengan tim dance (No Limit Crew) lolos ke babak semifinal Gatsby 2013, dan acaranya
berlangsung di Jakarta. Waktu itu saya dengan tim punya waktu selama 3 bulan buat persiapin choreo. Waktu itu saya masih menggunakan blackberry Gemini
gen 1, sobat indopreneur pasti kebayang kan betapa jeleknya kamera hp itu.
Sedangkan di acara Gatsby itu, pengennya foto sebanyak-banyaknya. Kapan lagi
kan bisa lolos semifinal dan di akomodasi’in semua?
Jadi
waktu itu saya menargetkan untuk membeli smartphone berbasis android yang
cameranya bagus dan perbandingan spec-harganya murah dibanding dengan yang
lain. Akhirnya saya pilih oppo find 5. Harganya saat itu 5,5 juta.
Tabungan hanya terkumpul 2 juta, dan uang jajan saya 100 ribu perminggu, belum
termasuk uang makan 10 rb per hari.
Coba
deh sobat indopreneurs sekalian hitung, mungkin ngga sih? jika saya hanya bergantung
pada uang jajan, bisa membeli smartphone itu? Ngga mungkin
kan? Makanyaa saya memikirin segala cara untuk mendapatkan uang sebanyak
itu.
Yang saya lakukan saat itu adalah bawa bekal tiap hari ,artinya semua uang jajan
murni masuk ke tabungan. Namun setelah melakukan semua itu, apakah akan
tercapai? Setelah saya hitung-hitung, ternyata tetap aja tidak. Akhirnya saya pikirin cara
lain, selain meminjam uang dan tetap mematuh tegap pada integritas.
Akhirnya saya kepikiran untuk ngajar privat nari. Setelah merekrut, akhirnya saya dapat 3 murid. Dan dibayar 500 ribu per bulan, lumayan kan?
Setelah dihitung-hitung, ternyata mencukupi! Namun memang itu adalah tiga bulan
yang cukup berat bagi saya, karena menahan godaan untuk ngga beli pulsa, jajan di
sekolah, adalah berat bagi saya. Aku itu penjajan berat! hehehe
Namun
hasilnya Nampak! Seminggu sebelum keberangkatan ke Jakarta, saya berhasil mendapatkan smartphone tersebut, OPPO FIND 5. Lalu saya teringat kata-kata kedua
orang tua saya, bahwa bahwa harus bekerja
lebih jika ingin lebih.
Lalu saya hubungkan dengan dunia kerja. Kalau kerja di suatu perusahaan, tentu mendapatkan gaji tetap. Jika menginginkan sesuatu yang lebih, tentu saya bakal bekerja lebih. Namun apakah bekerja lebih itu cukup sebagai karyawan? Kalau bekerja lebih 70% dari biasanya,
palingan bonus paling POL cuman 30%. Terus saya mikir, kerja apa sih yang penghasilannya ngga
tetap? Selalu bisa bekerja lebih jika menginginkan lebih?
.
.
.
.
.
..
...
.
.
.
.
.
..
...
Akhirnya ketemu jawabannya! Yaitu dengan MENJADI
PENGUSAHA. Kalau jadi seorang entrepreneur, saya ngga terikat sama atasan. Saya mau lebih, ya usaha lebih. Saya termasuk orang yang ngga betah hidup dalam
suatu system terikat.
Lalu
awalnya saya kepikiran untuk mencari universitas bisnis ternama. Lalu saya analisa,
lulusan di unniversitas x sepertinya banyak yang bagus. Lalu saya lihat total fee yang
harus dibayar sampai lulus, ternyata sampai lulus biaya yang harus dikeluarkan
sebesar 270 juta belum termasuk biaya hidup, selama 5 tahun! Terus saya mikir,
ini serius??? Buang-buang waktu 5 tahun, dan bahkan belum memulai buka usaha!!??
Jika saya selama 2 tahun ikut workshop-workshop mahal yang belasan juta, biaya yang
dikeluarkan akan sama saja. Yang ngajarar praktisi yang sudah mahir di
bidangnya, bukan dosen yang kerjaannya tiap hari hanya berteori. Padahal bisnis
itu adalah soal action! Materi yang didapat pun yang terkini dan updated! Bukan
dari text book yang sudah berumur belasan tahun! Padahal bisnis itu selalu
berubah trendnya dari waktu ke waktu.
Sobat
bisa perhatikan sendiri, apakah peluang bisnis belasan tahun lalu sama dengan
sekarang? Simplenya, apakah dulu sudah banyak orang mudah mengakses internet?
Internet yang mudah diakses oleh semua orang, bisa jadi target pasar bukan?
Apakah itu ada di buku belasan tahun yang mungkin tidak menyarankan ‘internet
sebagai media marketing’? karena
internet dulu mahal dan untuk kalangan atas saja. Jelas terlihat ada trend yang
berubah besar kan?
Jadi,
walaupun saya waktu itu duduk di jurusan IPA, saya memilih untuk tidak menjadi
karyawan, melainkan jadi pengusaha. Pilihan yang berat menurut saya, karena
mayoritas disekolah saya kuliah di perguruan tinggi yang favorite-favorite! ITB, UI,
UGM padjajaran, dan lain lain. Artinya saya yang tidak memilih jalur kuliah,
jika gagal, akan malu sekali! Itu yang menjadi salah satu motivasi besar saya
saat ini. Soalnya saya mikir ,kuliah buat apa? Ijazah. Ijazah buat apa? Kerja.
Klo gua ngga mau kerja jadi karyawan? Ngga perlu kuliah! hahaha
Jadi
kurang lebih itulah background saya kenapa memilih jalan entrepreneur. Saya
yakin sobat indopreneur sekalian punya cerita masing-masing tentang mengapa
anda memilih jalur entrepreneur. Bisa anda share di page saya, klik aja“Young IndoPreneur”. Maaf jika likenya baru sedikit, karena memang baru. hehehe
Sekian
perkenalan saya :D
Mohon
berikan feedback! Karena itu berguna banget buat perbaikan di postingan
berikutnya! FYI: ini adalah blog pertama saya. hehehe
Terimakasih sudah membaca!
ditunggu ya postingan berikutnya!!!!!
ditunggu ya postingan berikutnya!!!!!

No comments:
Post a Comment