Friday, September 12, 2014

Bisnis Terbaik Sejagat




Bisnis Terbaik Sejagat

                “Bisnis apa sih yang peluangnya terbesar saat ini?” “Bisnis apa mas yang paling bikin cepet kaya?” “Bisnis yang paling cepet balik modal apa mas?” “Apa sih usaha yang paling menguntungkan saat ini?” “……. yang menjanjikan masa depan?” . Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang biasa seringkali dipertanyakan pengusaha pemula. Namun sebenarnya apa sih bisnis yang paling manis saat ini?
                Mungkin yang ada di kepala sobat sekalian jawabannya adalah property, investasi emas, saham, retail, kuliner.
                Mungkin juga sobat indopreneurs pernah mengikuti seminar-seminar kunci sukses!, Jalan pintas kayaraya!, Pintu Menuju Sukses!, Obat Mujarab untuk Sukses!. Apakah usaha anda sesukses yang diiming-imingkan?

                Jika "iya", ya syukur. Berarti anda melakukannya dengan benar. Namun bagaimana dengan yang tidak? Apa yang salah? Waktu seminar kelihatannya semua benar dan logis? Semua yang diajarkan terasa real? Apakah seminar-seminar itu bohong?
.
.
.
.
.
.
                Jawabannya tak lain adalah "Bisnis yang dibuka, bukan ditanyakan terus-menerus. Kapan mau mulai, kalau Anda terus bertanya?" (Kata mas Jaya Setiabudi selaku mentor di YEA). Memang benar sobat indopreneur, jika kita tidak mulai-mulai membuka usaha, pelan-pelan peluang itu pun akan tertutup. Jadi sebenarnya bukan seminarnya yang salah, tapi anda yang tidak bergerak setelah seminar tersebut.

                Sering kali orang menyalahkan keadaan diluar diri mereka, dan membenarkan tindakan mereka untuk tidak memulai usaha. Hanya karena mereka tidak merasa bahwa membuka usaha itu adalah hal yang mendesak.

                Tahukah anda mengapa orang yang berpendidikan tinggi cenderung jadi karyawan dibanding orang yang berpendidikan rendah? Karena orang yang berpendidikan tinggi terlalu memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan negative, dan ditambah rasa takut kehilangan zona nyaman yang memperkuat rasa ‘kemungkinan negative’ tersebut, sehingga kemungkinan-kemungkinan positifnya tenggelam. Sementara orang yang berpendidikan rendah, tidak terlalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan negative, bahkan hampir selalu memikirkan kemungkinan positifnya saja.

                Secara teori, jika mereka sama-sama start buka usaha, jelas yang akan berhasil duluan adalah yang berpendidikan tinggi.
                Namun, karena rasa takut kehilangan zona nyaman itu mengalahkan rasa ‘kemungkinan berhasil’, maka mereka memulai pun tidak. Jika memulai saja tidak, bagai mana mau berkembang? Lain halnya dengan yang berpendidikan rendah, mereka akan dengan percaya diri memulai usaha mereka, walau mereka cenderung melakukan trial and error, tapi hanya merekalah yang berkemungkinan untuk sukses usahanya. Karena minimal mereka start membuka usahanya.

                Namun, memang benar tidak semua orang berpendidikan rendah usahanya akan sukses. Karena selama trial and error, akan ada seleksi alam. Bagi yang mentalnya tidak kuat, jelas akan jatuh, dan menyerah, dan tidak memulai usaha lagi. Akhirnya bernasib sama dengan semua orang yang tidak membuka usaha.

                Dengan begitu, sobat dapat simpulkan dengan sangat jelas bahwa usaha yang bisa sukses hanyalah usaha yang dibuka. Jadi janganlah berhenti memulai, karena kalaupun gagal, selalu akan ada hal yang dapat dipelajari!

                Anda jangan trauma dengan kegagalan, karena itu hanya akan menghambat bahkan membuat anda tidak berani untuk memulai kembali usaha anda. Karena trauma itu sebenarnya adalah pilihan kita sendiri, mau disimpan atau mau dilupakan! ”Hanya andalah yang mampu menentukan suasana hati anda,dan jangan biarkan keadaan diluar menentukan suasana hati anda.” (buku 7 habits of highly effective people)

                Singkat cerita, dulu saat saya sedang menikmati liburan kenaikan kelas (saya masih kelas 4 sd), saya dan keluarga mengunjungi kebun stroberi dekat bogor. Setelah puas menaiki kuda mengelilingi kebun, saya disuruh untuk berfoto bersama kuda tersebut. Lalu saya ingin merangkul kuda tersebut, secara tidak sengaja saya menyentuh telinga kuda tersebut. Lalu kuda tersebut seperti menundukan kepala dan mencium perut saya yang masih kecil, tiba-tiba mulut kuda tersebut menggigit perut saya. Mendadak saya pun kaget dan menangis kesakitan. Namun sampai sekarang saya tidak trauma terhadap kuda, mungkin kebanyakan anak kecil umur segitu akan trauma dengan kuda. (true story)

                Dari cerita diatas dapat disimpulkan bahwa trauma itu datangnya dari diri kita sendiri, dipicu oleh kejadian luar. Jadi sebenarnya hanya diri kita sendirilah yang dapat menghapus trauma tersebut. Jangan anda menunggu orang lain untuk merubah anda, dan jangan jadikan itu alasan untuk tidak mencoba lagi! Karena anda akan sama saja nasibnya dengan yang tidak membuka usaha.

                Jadi intinya, bisnis yang terbaik adalah adalah "Bisnis yang dibuka, bukan ditanyakan terus-menerus. Kapan mau mulai, kalau Anda terus bertanya?" – Jaya Setiabudi.

                Bagaimana sobat indopreneurs? Sudah tau bisnis terbaik sejagat? Hehehe.

                Trimakasih sobat indopreneurs, terutama yang telah membaca artikel pertama sampai artikel yang ketiga. Jika sobat indopreneur suka, mohon di like page YoungIndoPreneur, dan meng-share artikel saya. Dan bagi yang merasa ada yang tidak berkenan, monggo,,, silahkan post di page YoungIndoPreneur, saya akan dengan senang hati berdiskusi dengan anda.

                Mohon berikan feedback dan kritikan sebanyak-banyaknya untuk postingan berikutnya ^^

Wednesday, September 10, 2014

Ngga ada Alasan untuk Ga Bisnis!!


 
                Kenapa harus jadi entrepreneur? Buat apa?” “Kalau bangkrut gimana? Nggak deh, gua kerja aja, lebih aman.” “gua ngga punya ijasah, mau usaha apa? Jualan bakso? Sori la yaw, nggak level! Mending gua jadi manager aja” “ngga punya duit mas.”

                Ini adalah mindset-mindset kebanyakan orang di Indonesia. Dan saya akan mencoba menjawab semua pertanyaan diatas.

                Pertama, “kenapa harus jadi entrepreneur? buat apa?”. Tahukah anda bahwa Negara maju 2-15% dari total penduduknya adalah pengusaha!!! Sedangkan di Indonesia, pengusahanya hanya 0,02xxx% dari jumlah penduduk di Indonesia. Ironisnya, jika diurutkan 100 orang terkaya di Indonesia, semuanya adalah pengusaha. Anda masih bertanya kenapa harus jadi pengusaha?

                Kedua, “Kalau bangkrut gimana? Nggak deh, gua kerja aja, lebih aman.”. Setiap manusia memiliki porsi gagal masing-masing, jadi berbuat gagallah sebanyak-banyaknya. Mindset orang di Indonesia telah diajarkan secara keliru sejak sd! Anak sd telah dididik, kalau anda berbuat salah saat ulangan maka nilai anda akan kurang!! Kalau anda salah menjawab, akan ditertawakan! Salah bawa buku, disuruh keluar kelas! Guru menuntut semua murid untuk ‘perfect’! tidak ada salah sedikit pun!

                Namun itulah yang membuat anda menjadi takut mencoba, karena sudah dididik untuk takut salah, jika salah akan ada imbasnya. Padahal bisnis itu adalah soal action! Coba terus! Tidak ada kata gagal dalam mindset entrepreneur, “sometime you win, sometime you learn” itu yang ada di dalam mindset pengusaha! Jika anda tidak berhasil dalam project dan merugi, jangan katakan anda rugi! Itu adalah ongkos yang diperlukan untuk belajar! Seorang entrepreneur akan selalu mendapatkan pembelajaran dalam kegagalan. “apalah artinya rugi 10 juta sekarang, kalau pelajaran yang didapat  bisa diterapkan di project 100 juta?” yakan? Hehehe

                Jadi, setiap anda gagal, anda akan mempelajari sesuatu. Semakin banyak anda gagal, anda akan semakin banyak belajar sesuatu. Maka, genaplah quotes "setiap manusia memiliki porsi gagal masing-masing, jadi berbuat gagallah sebanyak-banyaknya." (kayak di kitab aja, hahaha)

                Ketiga, “gua ngga punya ijasah, mau usaha apa? Jualan bakso? Sori la yaw, nggak level! Mending gua jadi manager aja”. Anda  jangan sekali-kali meremehkan pengusaha bakso. Anda kira pengusaha bakso gerobak di perumahan-perumahan itu orang miskin? Oke, mari kita sama-sama menghitung profit kasarnya tukang bakso.

                Jika si pengusaha bakso menjual  satu mangkok bakso seharga 10 ribu rupiah. Rata-rata penjual bakso mampu menjual 30-70 porsi bakso seharinya. Anggaplah sejelek-jeleknya  menjual 20 porsi dalam sehari, berarti omzet yang dia dapatkan adalah 200 ribu. Dikali 30 hari, berarti omsetnya 6 juta per bulan (belum dihitung hari libur atau event tertentu dimana ia bisa menjual lebih). Anggaplah profit dari omzet yang ia dapat itu hanya 30% setelah dikurangi maintenence dan lain-lain. Berarti ia bisa untung 1,8 juta per bulan.

                Itu jika ia hanya memiliki satu gerobak! Bagaimana kalau ia membuat sepuluh gerobak di tempat yang berbeda? Penghasilannya 18 juta per bulan. Bagai mana kalau seratus gerobak? 180 juta per bulan!!!! Gaji bos perusahaan mana sih yang sebesar itu?  Kalau Ijasah? Ngga perlu! Anda hanya perlu jadi pandai berbicara dan mempengaruhi orang!  Jadi jangan sekali-kali meremehkan pengusaha bakso, karena penghasilannya melebihi manager disuatu perushaan. Minimal mindsetnya lebih brani! Hahahah

                Keempat, “ngga punya duit mas”. Saya akan mengutip buku The Power Of Kepepet karya mas Jaya Setiabudi.



Sekarang saya tanya ke sobat indopreneurs: “Jika anda saya suruh untuk mengumpulkan uang 50 juta untuk modal buka usaha, sanggupkah anda?” Jawab dalam hati
.
.
.
.
Kedua, jika pertanyaannya diubah menjadi: “jika sekarang orang yang anda paling sayangi ternyata menidap kanker dan harus segera dioperasi besok jam 12 siang, dan proses operasi tidak bisa dijalankan jika anda belum membayar uang tunai sebesar 50 juta, dapatkah anda mencari uang 50 juta sebelum jam 12 besok?” jawab dalam hati.



                Saya yakin 90% dari anda menjawab tidak di pertanyaan pertama, dan menjawab bisa di pertanyaan kedua. Dari situ anda dapat simpulkan, bahwa sebenarnya jika anda mau, anda bisa mengumpulkan 50 juta untuk memulai bisnis besok. Hanya saja, sayangnya kebanyakan orang menganggap membuka usaha itu sebagai sesuatu yang tidak mendesak.

                Bisnis tanpa modal itu memang tidak mungkin, tapi bisnis tanpa modal duit itu bukanlah sesuatu yang tidak mungkin! Karena anda berani saja, itu sudah modal yang paling penting. Anda bisa saja mencari investor untuk memulai usaha anda, atau anda bisa saja jadi broker. Banyak sebenarnya alternative lain! Hanya saja anda tidak memikirkan hal tersebut, karena tidak mendesak!





                Bagai mana? Masih ada alasan untuk tidak jadi pengusaha? :D. Sobat indopreneurs sekalian harus mengenali potensi yang ada dalam diri anda. Jika anda tidak bisa jualan, cari partner yang pandai jualan! Jika anda adalah orang yang sulit mengambil resiko, carilah partner yang selalu mengambil resiko! agar tercipta suasana yang sinergis.


                Tentu saja saya menulis artikel ini bukan sembarangan. Saya menulis buku ini berasarkan buku-buku yang telah saya baca, film motivasi yang telah saya tonton, dan materi yang diajarikan di YEA.

                Buku-buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca yaitu: Buka Langsung Laris – JayaSetiabudi, The Power of Kepepet – Jaya Setiabudi, 7 habits of highly effective people – Stephen covey, marketing untuk orang awam-Handi Chandra, the secret – Rhonda Byrne, personality plus – Florance littaeur, the 17th indisputable laws of leadership- John C.Maxwell.

                Film yang saya rekomendasikan yaitu :The Billionaire top ittipat, 3 idiots, jobs.



                Terimakasih sobat indopreneurs sudah meluangkan waktu untuk membaca! Tolong berikan feedback untuk perbaikan di postingan berikutnya :D harus objective ya!



Sampai jumpa di postingan berikutnya! Jangan lupa di share!

Tuesday, September 9, 2014

Young IndoPreneur

                Hai sobat indopreneur! Perkenalkan nama saya alfonsus kevin, lahir di lampung 25 september 1996 dan besar di batam. Sekarang  tinggal di bandung cihampelas, sedang menjalani program 6 bulan di YoungEntrepreneur Academy.

                Background orang tua saya, hidup serba berkecukupan. Dari kecil dilatih sama kedua orang tua untuk berusaha lebih jika ingin lebih. Ketika saya menginginkan sesuatu, orang tua selalu bilang ”tabung dong! Enak betul ngga ngapa-ngapain dibeliin barang bagus!”. Awalnya saya kesel dan menganggap orang tua ngga sayang lagi, sampai saya ingat bertahun-tahun kedepan. Sampai akhirnya saya duduk di kursi SMA, dan mulai sadar bahwa apa yang diucapkan orang tua gua ternyata maknanya dalam.

                Waktu itu saya dengan tim dance (No Limit Crew) lolos ke babak semifinal Gatsby 2013, dan acaranya berlangsung di Jakarta. Waktu itu saya dengan tim punya waktu selama 3 bulan buat persiapin choreo. Waktu itu saya masih menggunakan blackberry Gemini gen 1, sobat indopreneur pasti kebayang kan betapa jeleknya kamera hp itu. Sedangkan di acara Gatsby itu, pengennya foto sebanyak-banyaknya. Kapan lagi kan bisa lolos semifinal dan di akomodasi’in semua?

                Jadi waktu itu saya menargetkan untuk membeli smartphone berbasis android yang cameranya bagus dan perbandingan spec-harganya murah dibanding dengan yang lain. Akhirnya saya pilih oppo find 5. Harganya saat itu 5,5 juta. Tabungan hanya terkumpul 2 juta, dan uang jajan saya 100 ribu perminggu, belum termasuk uang makan 10 rb per hari.

                Coba deh sobat indopreneurs sekalian hitung, mungkin ngga sih? jika saya hanya bergantung pada uang jajan, bisa membeli smartphone itu? Ngga  mungkin  kan? Makanyaa saya memikirin segala cara untuk mendapatkan uang sebanyak itu.

                Yang saya lakukan saat itu adalah bawa bekal tiap hari ,artinya semua uang jajan murni masuk ke tabungan. Namun setelah melakukan semua itu, apakah akan tercapai? Setelah saya hitung-hitung, ternyata tetap aja tidak. Akhirnya saya pikirin cara lain, selain meminjam uang dan tetap mematuh tegap pada integritas.

                Akhirnya saya kepikiran untuk ngajar privat nari. Setelah merekrut, akhirnya saya dapat 3 murid. Dan dibayar 500 ribu per bulan, lumayan kan? Setelah dihitung-hitung, ternyata mencukupi! Namun memang itu adalah tiga bulan yang cukup berat bagi saya, karena menahan godaan untuk ngga beli pulsa, jajan di sekolah, adalah berat bagi saya. Aku itu penjajan berat! hehehe

                Namun hasilnya Nampak! Seminggu sebelum keberangkatan ke Jakarta, saya berhasil mendapatkan smartphone tersebut, OPPO FIND 5. Lalu saya teringat kata-kata kedua orang tua saya, bahwa bahwa harus bekerja lebih jika ingin lebih.

                Lalu saya hubungkan dengan dunia kerja. Kalau kerja di suatu perusahaan, tentu mendapatkan gaji tetap. Jika menginginkan sesuatu yang lebih, tentu saya bakal bekerja lebih. Namun apakah bekerja lebih itu cukup sebagai karyawan? Kalau bekerja lebih 70% dari biasanya, palingan bonus paling POL cuman 30%. Terus saya mikir, kerja apa sih yang penghasilannya ngga tetap? Selalu bisa bekerja lebih jika menginginkan lebih?
.
.
.
.
.
..
...

                Akhirnya ketemu jawabannya! Yaitu dengan MENJADI PENGUSAHA. Kalau jadi seorang entrepreneur, saya ngga terikat sama atasan. Saya mau lebih, ya usaha lebih. Saya termasuk orang yang ngga betah hidup dalam suatu system terikat.

                Lalu awalnya saya kepikiran untuk mencari universitas bisnis ternama. Lalu saya analisa, lulusan di unniversitas x sepertinya banyak yang bagus. Lalu saya lihat total fee yang harus dibayar sampai lulus, ternyata sampai lulus biaya yang harus dikeluarkan sebesar 270 juta belum termasuk biaya hidup, selama 5 tahun! Terus saya mikir, ini serius??? Buang-buang waktu 5 tahun, dan bahkan belum memulai buka usaha!!??

                Jika saya selama 2 tahun ikut workshop-workshop mahal yang belasan juta, biaya yang dikeluarkan akan sama saja. Yang ngajarar praktisi yang sudah mahir di bidangnya, bukan dosen yang kerjaannya tiap hari hanya berteori. Padahal bisnis itu adalah soal action! Materi yang didapat pun yang terkini dan updated! Bukan dari text book yang sudah berumur belasan tahun! Padahal bisnis itu selalu berubah trendnya dari waktu ke waktu.

                Sobat bisa perhatikan sendiri, apakah peluang bisnis belasan tahun lalu sama dengan sekarang? Simplenya, apakah dulu sudah banyak orang mudah mengakses internet? Internet yang mudah diakses oleh semua orang, bisa jadi target pasar bukan? Apakah itu ada di buku belasan tahun yang mungkin tidak menyarankan ‘internet sebagai media marketing’?  karena internet dulu mahal dan untuk kalangan atas saja. Jelas terlihat ada trend yang berubah besar kan?


                Jadi, walaupun saya waktu itu duduk di jurusan IPA, saya memilih untuk tidak menjadi karyawan, melainkan jadi pengusaha. Pilihan yang berat menurut saya, karena mayoritas disekolah saya kuliah di perguruan tinggi yang favorite-favorite! ITB, UI, UGM padjajaran, dan lain lain. Artinya saya yang tidak memilih jalur kuliah, jika gagal, akan malu sekali! Itu yang menjadi salah satu motivasi besar saya saat ini. Soalnya saya mikir ,kuliah buat apa? Ijazah. Ijazah buat apa? Kerja. Klo gua ngga mau kerja jadi karyawan? Ngga perlu kuliah! hahaha

                Jadi kurang lebih itulah background saya kenapa memilih jalan entrepreneur. Saya yakin sobat indopreneur sekalian punya cerita masing-masing tentang mengapa anda memilih jalur entrepreneur. Bisa anda share di page saya, klik aja“Young IndoPreneur”. Maaf jika likenya baru sedikit, karena memang baru. hehehe

                Sekian perkenalan saya :D

                Mohon berikan feedback! Karena itu berguna banget buat perbaikan di postingan berikutnya! FYI: ini adalah blog pertama saya. hehehe

Terimakasih sudah membaca!
ditunggu ya postingan berikutnya!!!!!